Sebenarnya artikel ini telah dipresentasikan dan dimuat pada Prosiding dengan Tema: Diskusi Sehari Problematika Penggunaan Hormon dalam Produksi Ternak, 3 Pebruari 2001, di Fapet Unpad. Sudah lama memang, tapi bicara tentang ilmu tidak ada matinya karena ilmu yang ada sekarang merupakan bagian dari perjalanan masa lalu, semoga bermanfaat.

Oleh

Soeharsono

(Guru Besar di Lab. Fisiologi dan Biokimia, Fakultas Peternakan UNPAD, sekarang beliau sudah almarhum)

 1.      Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang sudah menanda tangani perjanjian GATT (General Agreement on Trade and Tariffs), sehingga Indonesia tidak dibenarkan lagi melakukan proteksi brlebihan terhadap industrinya. Dalam GATT ada prinsip pelarangan praktek dagang “unfair” yakni adanya subsidi, sehingga dalam bersaing landasannya adalah harga, kualitas dan efisiensi di seluruh kegiatan. Pada tahun 2003 perdaganga bebas bagi produk peternakan akan berlaku. Ini berarti mulai adanya persaingan dalam harga dan kualitas produk, sehingga hanya peternakan dengan kualitas dan effisiensi tinggi yang akan mampu bertahan.

Melihat kondisi Indonesia masih jauh dari kemampuan meningkatkan efisiensi, diperkirakan Indonesia akan menghadapi kesulitan dalam persaingan harga produk peternakan. Bukan hal yang tidak mungkin Indonesia akan merupakan negara pengimpor dan akan merupakan pasar dunia yang besar bagi produk ternak luar negeri. Hal ini dapat membunuh peternakan dalam negeri. Akibat dari tidak diperbolehkan adanya “barrier tariff” dalam perdagangan tersebut, maka produk dalam negeri akan selalu tergeser oleh produk luar negeri. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan dan harus segera diantisipasi bagaimana pemecahannya.

Celah-celah yang kiranya dapat digunakan untuk proteksi ialah hak melindungi masyarakat dari makanan yang mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan. Setiap negara mempunyai hak menolak bahan makanan yang diperkirakan membahayakan konsumen antara lain bahan yang mengandung residu antibiotika, dioksin, pestisida, hormon, dan lain-lain.

Dalam dunia peternakan, salah satu usaha untuk meningkatkan efisiensi ialah tknologi penggunaan zat yang mampu memacu produksi dan pertumbuhan ternak antara lain penggunaan feed additive baik dalam bentuk penambahan vitamin , antibiotik, probiotik, dan lain-lain. Umumnya penggunan pemacu pertumbuhan ini, kecuali untuk antibiotik , tidak menimbulkan permasalahan di masyarakat, akan tetapi penggunaan hormon sebagai pemacu pertumbuhan, yang bukan berupa feed additive, dalam produksi ternak masih kontroversial. Sebagian ilmuwan pro terhadap penggunaan zat tersebut, karena ditinjau dari segi peternak, diperkirakan menguntungkan. Namun sebagian lagi kontra, karena di samping menambah biaya produksi, juga diperkirakan produknya dapat mengandung residu yang merugikan kesehatan manusia. Pro dan kontra terhadap penggunaan zat ini mempunyai alasan masing-masing, sehingga tidak dapat membuat peraturan yang apriori menolak tanpa suatu landasan ilmiah.

Hormon steroid adalah hormon anabolik dengan inti sama dengan inti cholesterol. Hormon ini sangat bebas keluar masuk sel dan respons sel target atas masuknya hormon steroid adalah membentuk protein, sehingga ternak yang diberi hormon ini akan terpacu pertumbuhannya. Namun terdapat indikasi daging ternak yang diberi hormon steroid mengandung banyak lemak. Sejauh mana efeknya terhadap manusia bila mengkonsumsi daging yang diberi anabolic steroid dan sejauh mana efek residunya.

Somatotrophic hormone (STH) adalah hormon protein, atau lebih tepat disebut hormon polipeptida yang terdiri atas sekitar 190 asam amino yang membentuk rangkaian menjadi satu molekul polipeptida. Komposisi asam aminonya berbeda antar spesies. Hormon Pertumbuhan (GH) yang kini banyak digunakan dalam bidang produksi ternak ialah pST dan bST. Hormon mana yang biasa diberikan pada ternak sapi impor dan bagaimana aplikasinya, perlu dielaborasi. Sejauh mana dampak bahayanya, bila seseorang mengkonsumsi daging (otot, jeroan, hati, dan organ-organ lainnya) dari ternak yang diberi hormon pertumbuhan. Yang kiranya tidak dapat ditoleransi ialah menyangkut halal dan tidak halalnya produk tersebut antara lain pada impor daging perlu adanya sertifikat halal, dan bila digunakan pST dalam proses memacu pertumbuhan tersebut, jelas sulit untuk diterima.

2.      Hormon Pemacu Pertumbuhan

Yang dimaksud dengan frowth hormon ialah himpunan sejumlah hormon yang berfungsi mengatur pertumbuhan. Hormon pertumbuhan dihasilkan oleh kelenjar pituitari dan dikenal dengan STH (Somato Tropic Hormone = Somatotropin). Mekanisme kerjanya langsung dan tidak langsung terhadap pertumbuhan. Efek langsungnya sebagai anti-insulin, sedangkan efek tidak langsungnya ialah terhadap reseptor dalam hati yang kemudian hati mengeluarkan beberapa hormon polipeptida lain. Secara kolektif disebut Somatomedin yang juga sering disebut Insulinlike Growth Factor I dan II atau IGF – I dan IGF – II dengan rangkaian asam amino 70 dan 67. Hormon ini merangsang proliferasi sel dan melakukan negative feed back terhadap pengeluaran STH.

Hormon lain yang ada kaitannya dengan pertumbuhan, poliferasi dan diferensiasi sel spesifik antara lain erythropoietin, nerve growth factor, epidermal and fibroblast growth factor, platelet derived growth factor , dan sejumlah hormon thymine seperti thymosin, thymopoetin, serum thymic factor dan lain-lain. Insulin merupakan hormon polipeptida yang di samping bekerja terhadap metabolisme karbohidrat dan lemak, juga mempunyai peranan penting dalam regulasi pertumbuhan. Prolaktin memegang peranan penting dalam pertumbuhan kelenjar mammae selama akhir stadia kebuntingan. Laktogen plasenta sangat berperan terhadap pertumbuhan fetus. Anabolic steroid pada diduga mampu meningkatkan myogenesis dan meningkatkan lipolisis, namun sangat bergantung kepada unur hewannya. Jadi, hormon pemacu pertumbuhan adalah himpunan beberapa hormon yang ada kaitannya dengan pertumbuhan.

Hormon pertumbuhan utama yang digunakan dalam produksi ternak adalah anabolic steroid dan Growth Hormone. Namun yang menjadi perhatian dewasa ini ialah bovine somatotropin ( bST, bGH ) dan porcine (babi) somatotropin (pST, pGH). Porcine somatotropin, walaupun sangat efektif meningkatkan pertumbuhan , sudah jelas tidak diharapkan masuk, karena permasalahan agama. Fungsi fisiologis hormon ini ialah mempengaruhi metabolisme yang berkaitan dengan pertumbuhan melalui stimulasi sintesis protein, meningkatkan transpor asam amino ke dalam sel, mempengaruhi metabolisme karbohidrat, meningkatkan glucogenesis dalam hati, merangsang mobilisasi lemak tubuh, mempengaruhi metabolisme mineral dan memacu pertumbuhan tulang rawan, yang pada gilirannya memacu pertumbuhan.

Sekarang berkembang hormon recombinant antara lain recombinant bovine growth hormone dan recombinant bovine somatotropin (rBGH dan rBST). Salah satu produk dibuat oleh Mosanto corporation melalui rekayasa genetik yakni rBGH dengan nama perdagangan Posilac yang dikenal juga sebagai BST atau BGH atau rBGH. Applikasinya bervariasi bergantung kepada produk mana yang digunakan. Sebagian digunakan secara injeksi dan sebagian dengan cara inplantasi. Cara aplikasi ini sangat menentukan kandungan hormon dalam darah dan organ tubuh.

3.      Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Hormon

Secara umu, tidak disangsikan lagi bahwa hormon mengontrol reproduksi dan pertumbuhan/perkembangan, dan dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan produksi susu. Namun banyak peternak menolak dengan alasan tidak ada jaminan yang pasti tentang keamanan produk, ada keraguan tentang kredibilitas FDA, ada anggapan bahwa ilmuwan kurang memperhatikan keadaan ini dan tidak benar-benar netral. Di samping itu banyak juga yang mnerima, karena secara alami hormon tersebut sudah ada dalam tubuh, persetujuan FDA merupakan suatu kepercayaan, merasakan adanya efisiensi produksi, sehingga mendorong pengurangan biaya produksi, dan lain-lain. Dari ungkapan di atas, jelas adanya kontroversi yang cukup beralasan, karena belum ada penelitian yang benar-benar menjurus ke arah itu.

Dari penelitian secara partial, tidak disangsikan lagi bahwa hormon seks eksogenous dalam level yang tinggi dapat mengggangu proses fisiologis tubuh. Bahkan dalam beberapa kasus dapat secara permanen mengganggu beberapa aspek kegiatan fifiologis. Somatotropin alami sudah sejak lama diketahui dan digunakan sebagai pemacu roduksi ternak, dan menunjukkan adanya efisiensi produksi. Namu, belakangan setelah didapat somatotropin produk rekayasa genetik, terjadi sorotan tajam, karena diduga adanya residu yang mengganggu kesehatan manusia. Rupanya produksi asam amino pada ribosoma bakteri terlalu kuat mempengaruhi sapi dan terus aktif, sehingga berbahaya bagi manusia.

Hormon pemacu pertumbuhan terdiri atas hormon non-steroid yakni hormon protein atau lebih tepat disebut hormon polypeptide yang terdiri atas sekitar 190 asam amino berikatan satu dengan yang lainnya dalam sebuah molekul polypeptide. Komposisi asam aminonya berbeda antar spesies. Kelompok non-steroid antara lain Bovine Somatotropin (bST, bGH) dan Porcine (babi) Somatotropin (pST , pGH) dengan beberapa nama perdagangan. Hormon lain ialah kelompok hormon steroid antara lain, Oestradiol 17 B, Progesterone, Testosterone, Melengestrol acetate, Trenbolonce acetate, Zerano.

Fungsi fisiologis hormon ini ialah mempengaruhi proses metabolisme yang menyangkut pertumbuhan melalui stimulasi sintesis protein, meningkatkan transportasi asam amino ke dalam sel, mempengaruhi metabolisme karbohidrat, glucogenesis dalam hati, memacu mobilisasi lemak tubuh, mempengaruhi metabolisme mineral dan memacu pertumbuhan tulang rawan. Keuntungan dan kerugian penggunaan hormon dalam produksi ternak dan dampak produk tersebut terhadap konsumen masih simpang siur.

Tantangan ilmiahnya ialah manusia harus memahami cara pengendalian agar keberadaan campuran zat kimia yang kompleks tersebut serendah mungkin pada setiap stadia perkembangan manusia, sebab dapat menimbulkan pengaruh terhadap “hormonal pathways”. Sejauh ini belum ada bukti bahwa bila level hormon sex exogenous cukup rendah dapat menggangu reproduksi dan perkembangan manusia.

4.      Penggunaan pada Sapi Perah

Pada perusahaan sapi perah, khususnya perusahaan besar, banyak menggunakan rBGH sebagai milk-stimulating hormone. Applikasi pada sapi perah di Amerika Serikat secara injeksi dan banyak digunakan rBST. Dalam penelitian produksi susu, ternyata hormon ini dapat meningkatkan produksi susu sampai 10%. Namun, kemudian dalam aplikasinya banyak perusahaan mengeluh, karena efeknya hampir tidak ada. The Standing Senate Committee on Agriculture and Forestry, Canada, pada hari Senin tanggal 26 April 1999 di Ottawa, menyelenggarakan diskusi penggunaan rBGH pada sapi perah. Ratusan laporan dari peternak dan asosiasi peternak, yang mengemukakan bahwa bila BGH dan BST diberikan pada sapi perah akan terjadi metabolit IGF-I disebut juga myotrophin digunakan sebagai obat untuk pertumbuhan syaraf pada manusia, namun kemudian FDA menyelenggarakan diskusi panel yang kesimpulannya bahwa IGF-I (myotrophin) ditolak sebagai obat, karena menimbulkan bnyak kematian pada manusia (The Standing Senate Committee on Agriculture and Forestry, 1999).

Sebelum tahun 1995 perusahaan sapi perah besar menggunakan milk-stimulating hormone (rBGH), namun sejak tahun 1995 di California penggunaan rBGH menurun dan bahkan pada cuaca buruk, penggunaan rBGH ini justru menimbulkan stress. Injeksi rBGH menurunkan harapan hidup sapi perah, meningkatkan resiko penyakit, sapi perah bobotnya menurun, kadang-kadang jadi infertil dan lebih peka terhadap mastitis. Lebih lanjut bahwa banyak peternak mulai ketakutan menggunakan rBGH, karena adanya masalah kelainan reproduksi. Di Amerika Serikat, para dokter hewan tidak menentang penggunaan rBGH, tetapi dokter hewan di Jerman secara formal menolak penggunaan rBGH dan dianggap melanggar kode etik (Rachel, 1996).

Hasil penelitian terhadap Posilac (nama perdagangan rBGH dari Monsanto) air susu sapi yang diberi rBGH mengandung Metabolit IGF-I atau dikenal dengan myotrophin dan IGF-I merupakan penyebab tumor kolon, menimbulkan cepatnya pembelahan sel, merupakan acute diabetes induction pada anak-anak dan menimbulkan antibodi berkaitan dengan diabetes. IGF-I secara alami terdapat pada sapi dan manusia dan molekulnya ternyata identik. Selanjutnya IGF-I tidak mngurai dengan pasturisasi, sehingga IGF-I yang terdapat dalam susu sapi yang diberi strukturnya dengan hormon alami (Rachel, 1996).

5.      Penggunaan pada Sapi Potong

Pada sapi potong, penggunaan zat pemacu pertumbuhan masih bersimpang siur. Hormon yang diimplantasikan pada telinga seperti terlihat pada sapi impor dari Australia, dapat meningkatkan berat sekitar 14% dan memperbaiki konversi pakan antara 6-10%. Banyak hormon perdagangan yang digunakan antara lain Ralgo, Synovex C, Zeranol, Revalor S, Revalor H, Posilac dan lain-lain.

Lima organisasi yakni WHO, the United Nations Food and Agricultural Organization, the European Commission Scientific Working Group on Anabolic Agents in Animal production, dan the Codex Alimentarius Commission, menyatakan bahwa penggunaan hormon yang sudah mendapat pengawasan dan disartifikasi adalah aman bagi produksi sapi potong. Walaupun demikian, untuk penggunaan hormon ini harus tercatat, sesuai dengan teknologi trbaru, penggunaannya terprogram. Di Australia Barat, hnya retailer yang tercatat boleh menjual hormon HGP’s. Setiap pengecer harus menyediakan format perjanjian dengan pembeli.

Pada tanggal 26 April 1999, The Standing Senate Committee on Agriculture and Forestry, Canada, menerbitkan hasil diskusi mengenai status pertanian sekarang dan masa yang akan datang di Canada. Anggota Komite umumnya tidak percaya, karena belum banyak bukti, tentang resiko yang timbul pada manusia yang mengkonsumsi susu dari sapi yang diberi rBST. Tetapi, Environmental Research Foundations, Annapolis, USA, menyatakan bahwa hormon BST atau BGH atau rBGH yang nama perdagangannya POSILAC ditentang mati-matian oleh kelompok konsumen di lapangan, karena (1) untuk sapi tidak baik, (2) masyarakat merasa lebih aman peningkatan produksi tanpa zat kimia, (3) di Amerika tidak diperlukan, karena produksi sapi perah sudah cukup, (4) dampaknya pada manusia tidak diketahui.

Pada tanggal 30 April 1999, Masyarakat Eropa menerbitkan laporan mengenai pendapat the Scientific Committee on Veterinary Measures Public Health (SCVPH). Dalam laporan di atas bahwa hormon aktif yang digunakan untuk memacu pertumbuhan pada sapi, potensial berisiko bagi kesehatan manusia akibat residu pada daging dan produk daging. Yang diteliti adalah enam hormon steroid yakni oestradiol-17B, testosterone, zeranol, progesterone, trebolone acetate dan melenogestrol acetate. The SCVPH menyimpulkan bahwa resiko akibat mengkonsumsi daging dari sapi yang diberi hormon steroid pemacu pertumbuhan lebih tinggi dari dugaan semula (Sub-Group of the Veterinary Products Committee, 1999).

Indonesia merupakan negara pengimpor sapi yang cukup besar dari Australia (Grafik 1). Ini perlu merupakan perhatian khusus, artinya walaupun pada era Perdagangan Bebas, Indonesia mempunyai hak melindungi masyarakatnya dari berbagai aspek melalui “barrier non tariff”, namun dalam kondisi pelarangan penggunaan hormon secara total, seperti Masyarakat Eropa, tampaknya masih perlu pertimbangan matang. Oleh karena itu dalam menentukan kriteria dalam peraturan pelarangan penggunaan hormon untuk memcu produksi susu atau pertumbuhan perlu banyak pertimbangan tidak saja dari aspek produksi, namun juga dari aspek di luar produksi.

 6.      KESIMPULAN

1.      Penggunaan hormon pemacu pertumbuhan pada sapi perah dan sapi potong dapat meningkatkan produksi dan pada peternakan besar dapat memberikan keuntungan, namun ternyata tidak semua hormon pemacu  produksi mempunyai efek yang sama, sehingga perlu adanya spesifikasi hormon mana yang secara ekonomis menguntungkan bagi peternak dan tidak menimbulkan bahaya bagi konsumen

2.      Efek pada manusia yang mengkonsumsi produk ternak yang diberi hormon belum jelas benar, namun ada indikasi dapat menggangu kesehatan manusia, khususnya pada anak-anak yang mengkonsumsi susu dari sapi perah yang diberi pemacu produksi

3.      Tidak semua hormon merugikan konsumen, khususnya hormon alami dari ternak yang sejenis. Penggunaannya tidak boleh melebihi kapasitas normal kandungan hormon dalam darah.

4.      Indonesia merupakan negara pengimpor sapi yang cukup besar dari Australia, sehingga penerapan pelarangan penggunaan hormon pada era perdagangan bebas sebagai “barrier non tariff|, masih perlu pertimbangan matang.

Daftar Pustaka

 Canqdian Senate. 1999, rBGH Transcript. The Standing Senate Committee on Agriculture and Forestry. Ottawa Canada.

CNN Interactive, 1996. Debate over Hormone-Free Milk Rages on in Vermont. April 19. New York, Inc.

Consumer Safety Information, 1999. The Use of Growth Promoting Hormones. Internationale Science.

Hadley. Mac.E. 1984. Endocrinology. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs. New Jersey 07632.

Rachel’s Environment and Health Wekkly. 1999. Environmental Research Foundation. P>O>Box 5306. Annapolis,MT.

Suijdendorp, Preston and Hopkin, Diana. 1997. Requirements for the Use of Hormonal Growth Promotants in Beef Cttle.Agriculture Western Australia

Unites States Departement of Agriculture. 1996. Estrogen Regulation of Gonadotropin Releasing Hormone Receptor Messenger RNA in Female Rat Pituitary Tissue. Poultry Science Building. Purdue University. West Lafayette.

 

1,163 total views, 4 views today

SMK Baabul Kamil: Multimedia, Farmasi dan Administrasi Perkantoran